Assalamuallaikum Kak, Selamat Berbelanja di Hanan Fashion
0 produk di keranjang belanja Anda

Tidak ada produk di keranjang.

KAIN LURIK YOGYAKARTA, KAIN SARAT NILAI SEJARAH

kain lurik yogyakarta

Kain Lurik Yogyakarta, Kain Sarat Nilai Sejarah. Kain lurik merupakan kain tenun yang memiliki motif garis-garis searah panjang kain. Kata lurik diambil dari bahasa jawa “lorek” yang berarti lajur atau garis dan dapat pula berarti corak. Kain ini sendiri memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi terutama di wilayah Yogyakarta dan Jawa tengah.  Kain tradisional ini diperkirakan ada sejak jaman kerajaan Mataram yang dibuktikan dengan adanya prasasti yang mengenakan kain lurik.

Motif Kain Lurik Yogyakarta

Pada dasarnya lurik memiliki 3 motif dasar, yaitu:
1. Lajuran dengan corak garis-garis panjang searah sehelai kain
2. Pakan malang yang memiliki garis-garis searah lebar kain
3. Cacahan adalah lurik dengan corak kecil-kecil.

Bahan Pembuat Kain Lurik

Lurik terbuat dari bahan serat kapas, serat kayu, serat sutera, dan ada juga yang menggunakan serat sintetis. Secara tradisional pembuatan kain ini menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin ATBM.

Dalam buku Ensiklopedi Yogyakarta halaman 384 mencatat bahwa pada awalnya kain lurik ditenun menggunakan benang katun dari kapas yang dipintal dengan tangan. Penggunaan benang katun menyebabkan kain lurik memiliki tekstur yang jelas seolah kasar. Namun justru tekstur yang demikian itu menjadi salah satu ciri kain yang masuk dalam kategori kain lurik.

Alat yang digunakan untuk menenun disebut gedog (tenun gedog). Oleh karena itu, kain lurik yang dihasilkan sering disebut lurik atau tenun gedog.

gambar kain lurik

Kain Lurik Dengklung (Foto: Elsa Toruan/kumparan)

Pada umumnya, kain yang dibuat dengan gedog hanya memiliki lebar 60 cm sesuai dengan ukuran panjang gedog-nya. Namun seiring perkembangan waktu, kain lurik dibuat dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Dengan alat tersebut, kain yang dihasilkan lebih lebar dibandingkan dengan gedog. Tenun ATBM lebarnya 150 cm dan benang yang digunakan adalah benang pabrik yang teksturnya lebih halus dibanding benang kapas.

Fungsi dan Penggunaan

Dahulu kain lurik ini banyak digunakan masyarakat sebagai pakaian sehari-hari. Untuk wanita biasanya dibuat kebaya, sedangkan untuk pria biasanya hanya sebagai bahan baju pria seperti sorjan. Disisi lain kain lurik juga dibuat sebagai bahan selendang yang berfungsi untuk menggendong tenggok. Selain untuk itu, lurik juga digunakan dalam upacara yang berkaitan dengan kepercayaan misalanya seperti labuhan, mitoni, dll.

Awalnya kain lurik hanya dibuat dengan dua warna, yakni hitam dan putih. Kini kain lurik warnanya lebih bervariasi; misalnya biru, merah, kuning, coklat, dan hijau. Dengan variasi warna yang lebih beragam membuat kain lurik tampak menarik. Di Yogyakarta, kain lurik mempunyai peran penting karena tidak hanya dipakai oleh masyarakat biasa (petani dan pedagang), tetapi juga digunakan di lingkungan Keraton.

Di lingkungan Keraton, kain lurik digunakan sebagai busana prajurit Keraton dan abdi dalem (baju pranakan). Baik yang berdinas di dalam Keraton maupun yang berdinas di makam-makam raja seperti Pasarean Imogiri dan Kotagede.

Fungsi kain lurik tidak hanya sebagai bahan pakaian sehari-hari, tetapi juga ada jenis kain yang berfungsi sebagai perlengkapan upacara. Seperti gedog madu atau tulak watu untuk perlengkapan upacara siraman saat mitoni (usia tujuh bulan kehamilan) dan kain lasem untuk perlengkapan temanten. Motif-motif lain dalam kain lurik antara lain adalah kembang widhi, dom kecer (hujan jatuh), dan hujan gerimis.

Pengrajin kain lurik di Yogyakarta saat ini ada di Jogokaryan dan di Krapyak Wetan, Sewon, Bantul. Produk kain lurik Yogyakarta mampu menembus pasar luar negeri. Seperti Selandia Baru, Australia, dan Belanda.

Itulah beberapa informasi mengenai kain lurik yogyakarta, kain sarat nilai sejarah, semoga dapat bermanfaat untuk Sahabat Hanan di rumah yah.

Barakallahu Fiikum…

Referensi:

-https://bloggunungkidul.wordpress.com/2015/08/17/mengenal-kain-lurik-khas-yogyakarta-dan-sejarahnya/

-https://kumparan.com/tugujogja/mengenal-kain-lurik-busana-prajurit-keraton-yogyakarta-1sRSEgiAvmg/full